
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang mengaktifkan Unit Perawatan Intensif (ICU) mini sebagai respons mendesak terhadap kebutuhan medis yang melonjak pasca-bencana banjir dan longsor parah yang melumpuhkan Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025. Fasilitas kesehatan utama di wilayah tersebut terendam air bah, mengganggu seluruh operasional penting.
Direktur RSUD Muda Sedia, Andika Putra, menjelaskan bahwa ICU mini yang kini beroperasi telah dilengkapi dengan dua ventilator dewasa, satu ventilator anak, serta alat bantu napas non-invasif Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) untuk menangani pasien kritis akibat bencana. Langkah ini diambil sebagai solusi cepat di tengah upaya pemulihan menyeluruh, mengingat ICU definitif rumah sakit baru akan dapat beroperasi penuh setelah jaringan oksigen pulih dan sistem pendingin udara baru terpasang. Fokus utama saat ini adalah memastikan layanan intensif dapat diberikan kepada masyarakat yang rentan setelah menghadapi trauma bencana.
Bencana hidrometeorologi pada 27 November 2025 melanda seluruh 12 kecamatan di Aceh Tamiang, dengan ketinggian air mencapai hingga tiga meter di beberapa area, menyebabkan 90 persen wilayah terdampak. Analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sekitar 58.000 bangunan rusak dan lebih dari 262.087 jiwa terpaksa mengungsi. RSUD Muda Sedia, yang merupakan satu-satunya rumah sakit di kabupaten tersebut, tidak luput dari dampak parah; seluruh bangunan terendam, alat kesehatan rusak, dan pasien harus dievakuasi ke lantai dua. Pembersihan masif rumah sakit dimulai pada 3 Desember 2025, dan layanan terbatas kembali dibuka pada 9 Desember 2025, dengan Instalasi Gawat Darurat (IGD) sempat difungsikan sebagai ruang rawat inap sementara untuk menampung pasien.
Kondisi kritis pasca-bencana diperparah oleh kenyataan bahwa lebih dari 90 persen tenaga kesehatan dan medis di RSUD juga menjadi korban langsung. Untuk mengatasi keterbatasan ini, Kementerian Kesehatan telah mengerahkan relawan untuk membantu penanganan pasien gawat darurat. Hingga akhir 2025, RSUD Muda Sedia telah melayani 507 pasien rawat inap, 2.350 pasien rawat jalan, melaksanakan 48 tindakan operasi, serta menangani 8 pasien perawatan ICU dan 20 pasien cuci darah, di samping 656 pasien di Unit Gawat Darurat. Angka-angka ini menggarisbawahi tekanan luar biasa terhadap sistem kesehatan di tengah krisis.
Selain aktivasi ICU mini, rumah sakit masih menghadapi tantangan serius terkait infrastruktur dan sumber daya. Direktur Andika Putra menyoroti kebutuhan mendesak akan penambahan ambulans, mengingat saat ini rumah sakit hanya memiliki dua unit dan membutuhkan setidaknya tiga unit lagi untuk mencapai standar layanan yang optimal. Ketersediaan unit pelayanan darah juga menjadi prioritas untuk menunjang tindakan operasi besar. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah mempercepat penyaluran air bersih untuk RSUD Tamiang, elemen krusial bagi operasional rumah sakit.
Pembangunan ICU mini ini menjadi indikator penting adaptasi dan ketahanan sistem kesehatan lokal dalam menghadapi frekuensi bencana yang meningkat. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di Sumatera harus mencakup seluruh aspek pembangunan, tidak hanya infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat untuk membangun ketahanan jangka panjang. Peningkatan kapasitas tanggap darurat di RSUD Muda Sedia akan membentuk preseden penting bagi persiapan kesehatan di daerah-daerah rawan bencana lainnya di Indonesia.