Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Studi Terbaru Kupas Tuntas Alasan Seseorang Memilih Jomblo Bertahun-tahun

2026-01-17 | 05:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T22:52:57Z
Ruang Iklan

Studi Terbaru Kupas Tuntas Alasan Seseorang Memilih Jomblo Bertahun-tahun

Fenomena memilih status lajang dalam jangka waktu panjang, atau "jomblo menahun", menunjukkan tren peningkatan signifikan di Indonesia dan berbagai negara maju, mengisyaratkan pergeseran fundamental dalam norma sosial dan prioritas individu terhadap pernikahan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru mencatat bahwa proporsi penduduk lajang usia 15-49 tahun di Indonesia meningkat dari 30,1 persen pada tahun 2012 menjadi 37,2 persen pada tahun 2023, dengan proporsi laki-laki yang melajang lebih tinggi. Sebuah studi Pew Research pada tahun 2023 di tingkat global juga menyoroti bahwa 63 persen laki-laki di bawah 30 tahun memilih melajang, hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan yang sebesar 34 persen. Pergeseran ini bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan cerminan dari kompleksitas ekonomi, sosial, dan psikologis yang membentuk ulang pandangan generasi muda terhadap komitmen relasional.

Dalam dekade terakhir (2014-2024), jumlah pernikahan di Indonesia mengalami penurunan drastis hampir 30 persen, dari 2,1 juta menjadi sekitar 1,4 juta pada tahun 2024. Penurunan angka pernikahan yang mencapai 28,63 persen ini terjadi di tengah tingginya keinginan masyarakat Indonesia untuk menikah, yang ironisnya juga ditunjukkan dengan peningkatan penggunaan aplikasi kencan daring sebesar 64,3 persen dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara keinginan menemukan pasangan dan hambatan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Pada tahun 2024, lebih dari 70 persen pemuda Indonesia berusia 16-30 tahun berstatus "jomblo", dengan 69,8 persen belum kawin dan 1,2 persen bercerai. Provinsi seperti Papua (83,96 persen) dan Jakarta (82,41 persen) tercatat memiliki persentase pemuda lajang tertinggi.

Para ahli mengidentifikasi beberapa pemicu utama di balik tren ini. Psikolog Roslina Verauli menjelaskan bahwa kemajuan gerakan feminisme, dorongan pendidikan tinggi, dan meningkatnya kasus perceraian telah menyebabkan "social clock" pernikahan mengalami kemunduran. Perempuan, khususnya, menunjukkan peningkatan independensi. Data dari BPS menunjukkan peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan pendidikan, yang mendorong mereka meninggalkan nilai tradisional dan berambisi membangun karier. Hal ini memungkinkan banyak perempuan memilih untuk melajang demi kebebasan menjalani hidup dan memprioritaskan tujuan serta cita-cita pribadi mereka, tanpa merasa bersalah.

Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan dominan. Survei terbaru Kompas.id (2026) menunjukkan 43,3 persen responden menjadikan belum cukupnya modal atau uang sebagai alasan utama menunda pernikahan, dengan 35,2 persen menempatkan kesiapan ekonomi sebagai pertimbangan personal teratas. Di negara-negara seperti Tiongkok, biaya pernikahan dan membesarkan keluarga yang meningkat menjadi pemicu keengganan menikah, menurut mantan Direktur Pusat Studi Asia Tengah di Universitas Kashmir, KN Pandita. Ketakutan akan kompleksitas hubungan dan trauma masa lalu, termasuk pengalaman perceraian atau hubungan yang buruk, turut memotivasi individu untuk tetap melajang. Psikolog Geoff Macdonald dari University of Toronto bahkan menegaskan bahwa hubungan romantis bukanlah "obat mujarab", dan berada dalam hubungan yang tidak bahagia justru terkait dengan kepuasan hidup yang lebih buruk dibandingkan menjadi lajang. Prioritas pada kesehatan mental, di mana hubungan seringkali menimbulkan emosi yang fluktuatif, juga mendorong beberapa individu memilih melajang untuk menjaga keharmonisan internal.

Implikasi jangka panjang dari tren melajang ini sangat beragam dan kompleks. Di sisi demografi, peningkatan jumlah lajang berkontribusi pada penurunan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia, yang turun dari 2,40 pada tahun 2017 menjadi 2,18 pada tahun 2020. Para ahli demografi memperingatkan bahwa tren ini dapat mempercepat proses penuaan populasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan kebutuhan perawatan lansia dan membebani sistem jaminan sosial serta kesehatan yang sudah terbatas.

Secara sosial, individu lajang seringkali menghadapi stereotip negatif dan stigma dari masyarakat, seperti label "perawan tua", dianggap egois, kesepian, atau sulit bergaul. Namun, studi Profesor Sosiologi Elyakim Kislev menemukan bahwa orang lajang yang bahagia cenderung menghabiskan waktu bersama teman, keluarga, dan kolega, serta memiliki rasa positif tentang diri sendiri dan pekerjaan. Di sisi lain, meskipun melajang dapat memberikan kebebasan dan fokus pada pengembangan diri, terlalu lama dalam status ini berpotensi menurunkan rasa percaya diri dan menimbulkan perasaan tidak aman (insecure). Ketakutan akan kesendirian juga dapat memediasi hubungan antara stereotip negatif dan kesejahteraan psikologis perempuan lajang, yang berpotensi menurunkan kebahagiaan.

Dampak ini menuntut perhatian serius dari pembuat kebijakan dan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan pola hidup ini, tidak hanya dari segi dukungan sosial dan ekonomi bagi individu lajang, tetapi juga dalam mempersiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan demografi di masa depan.