:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480096/original/011062200_1769038444-warong_nasi_pariaman.jpg)
Warong Nasi Pariaman, rumah makan nasi Padang tertua yang diakui di Singapura, akan mengakhiri operasionalnya pada 31 Januari 2026, menutup tirai setelah 78 tahun melayani hidangan otentik Sumatra Barat dari lokasi ikoniknya di 738 North Bridge Road, kawasan Kampong Glam. Pengumuman penutupan ini disampaikan melalui unggahan di media sosial pada 20 Januari 2026, yang seketika memicu gelombang kesedihan di antara para pelanggan setia dan komunitas kuliner Singapura.
Didirikan pada tahun 1948 oleh Haji Isrin, seorang imigran dari kota Pariaman di Sumatra Barat, Warong Nasi Pariaman telah menjadi mercusuar kuliner, menyajikan resep turun-temurun seperti rendang daging sapi, ikan bakar berasap, sotong kalio, dan ayam gulai. Sejak awal, warung ini telah menjadi bagian integral dari lanskap kuliner Melayu di Singapura, terutama di area historis Kampong Glam yang kental dengan budaya. Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai "warung tertua yang masih bertahan di Singapura yang menyajikan nasi padang," menurut platform Infopedia Dewan Perpustakaan Nasional Singapura. Pengakuan atas kontribusinya juga tercermin dari penghargaan Heritage Heroes Awards yang diterimanya pada tahun 2016.
Meskipun pihak Warong Nasi Pariaman tidak secara spesifik menguraikan alasan di balik penutupan, dalam unggahan di media sosial, mereka hanya menyatakan, "Dengan rasa syukur yang mendalam, kami ingin memberitahukan bahwa Warong Nasi Pariaman akan menghentikan bisnis pada 31 Januari. Terima kasih atas dukungan, cinta, dan kenangan manis bersama kami selama ini." Namun, penutupan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi yang dihadapi industri kuliner lokal di Singapura, khususnya para pedagang jajanan atau 'hawker'. Laporan terbaru menunjukkan bahwa biaya operasional, termasuk harga bahan baku dan upah, terus melonjak. Harga makanan jajanan di Singapura secara keseluruhan naik 6,1% pada tahun 2023, angka tertinggi sejak tahun 2008. Selain itu, biaya sewa di area seperti Kampong Glam dilaporkan mengalami kenaikan signifikan. Sebuah laporan CNA mencatat bahwa beberapa penyewa di Haji Lane, area berdekatan, mengalami kenaikan sewa dari sekitar S$3.000 menjadi hampir S$10.000 dalam beberapa tahun terakhir.
Implikasi dari penutupan Warong Nasi Pariaman melampaui sekadar hilangnya sebuah restoran. Ini menyoroti tantangan yang lebih besar dalam melestarikan warisan kuliner dan budaya jajanan di Singapura. Industri hawker menghadapi isu krusial seperti kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan tradisi karena jam kerja yang panjang dan margin keuntungan yang tipis, dengan usia rata-rata pedagang sekitar 60 tahun. Meskipun pemerintah Singapura telah memperkenalkan program seperti Hawkers Development Programme dan Hawker Succession Scheme untuk mendukung pedagang dan memfasilitasi transfer keterampilan, penutupan institusi berusia puluhan tahun seperti Warong Nasi Pariaman menggarisbawahi rapuhnya keberlanjutan tradisi ini tanpa dukungan komprehensif. Hilangnya warung legendaris ini tidak hanya menghapus sepotong sejarah kuliner tetapi juga menuntut evaluasi ulang strategi untuk melindungi dan menopang warisan gastronomi Singapura yang diakui UNESCO.