:strip_icc()/kly-media-production/medias/5226660/original/050701400_1747753465-steptodown.com913068.jpg)
Dalam perjalanan sebuah hubungan romantis, tak jarang seseorang dihadapkan pada perasaan tidak terduga, yaitu naksir orang lain meskipun sudah memiliki pasangan. Fenomena ini, yang sering kali memicu rasa bersalah dan kebingungan, sebetulnya adalah hal yang lazim dan manusiawi. Diperkirakan hingga 70 persen orang dalam hubungan eksklusif jangka panjang pernah mengalami ketertarikan atau "crush" pada pihak ketiga. Namun, bagaimana menyikapi perasaan tersebut secara bijak agar tidak merusak komitmen yang telah terjalin?
Para pakar psikologi dan hubungan sepakat bahwa munculnya rasa suka terhadap orang lain saat berpasangan adalah respons alami dan tidak selalu menandakan adanya masalah serius dalam hubungan utama. Sebastian Ocklenburg, seorang profesor psikologi di MSH Medical School, menjelaskan bahwa mayoritas "crush" cenderung tidak berbahaya dan bisa berlalu begitu saja, terutama jika seseorang berada dalam hubungan yang bahagia dan penuh cinta. Perasaan ini dapat muncul karena berbagai faktor. Salah satu penyebab umum adalah kebosanan atau kejenuhan dalam rutinitas hubungan jangka panjang, yang memicu keinginan untuk mencari pengalaman atau suasana baru.
Selain itu, kebutuhan emosional yang belum terpenuhi dalam hubungan saat ini, seperti kurangnya perhatian, komunikasi yang hangat, atau perasaan tidak dihargai, juga bisa menjadi pemicu munculnya ketertarikan pada orang lain yang mampu mengisi kekosongan tersebut. Daya tarik fisik atau karakteristik menonjol dari orang baru, serta kecenderungan untuk mengidealkan sosok yang ditaksir, turut berkontribusi. Ada pula fenomena "keinginan mimesis", di mana seseorang tertarik pada apa yang dimiliki atau diinginkan orang lain, yang bisa terjadi jika ketertarikan muncul pada pasangan teman. Terkadang, kedekatan emosional yang intens dengan seseorang dapat disalahartikan sebagai perasaan cinta.
Meskipun seringkali tidak berbahaya, ketertarikan pada orang lain bisa menjadi cermin atau celah dalam hubungan, terutama jika hubungan sedang goyah. Jika perasaan ini mulai melibatkan ikatan emosional yang mendalam dan mendorong pelanggaran batasan, baik secara fisik maupun emosional, maka hal ini dapat mengancam hubungan utama. Bentuk "perselingkuhan kecil" (micro cheating), seperti mencari perhatian berlebihan atau merahasiakan interaksi dengan orang lain, juga bisa menjadi awal dari masalah yang lebih besar.
Untuk menanganinya secara bijak, beberapa langkah kunci disarankan:
1. Akui dan Terima Perasaan: Langkah pertama adalah menerima bahwa memiliki "crush" adalah hal yang normal dan manusiawi. Hindari menyalahkan diri sendiri, tetapi fokus pada bagaimana Anda akan menanganinya.
2. Tetapkan Batasan Jelas: Pakar hubungan dan seksolog Suzannah Weiss serta konselor klinis profesional Afton Turner menyarankan untuk membatasi interaksi dengan orang yang ditaksir. Hindari mencari alasan untuk menghabiskan waktu berdua, apalagi secara rahasia. Menetapkan batasan emosional yang sehat sangat penting untuk melindungi kesejahteraan mental.
3. Jadikan Keterbukaan Tolok Ukur: Jika Anda mulai menyembunyikan interaksi dengan orang yang disukai, ini adalah tanda bahwa batasan dalam hubungan sedang dilanggar. Beberapa ahli menyarankan untuk berkomunikasi jujur dengan pasangan tentang perasaan tersebut, terutama jika ada kesepakatan keterbukaan, untuk membangun kepercayaan.
4. Refleksi Diri dan Evaluasi Hubungan: Gunakan perasaan ini sebagai kesempatan untuk merefleksikan kondisi emosional dan psikologis Anda sendiri, serta mengevaluasi kembali hubungan dengan pasangan. Pertanyakan kebutuhan emosional apa yang mungkin belum terpenuhi.
5. Alihkan Energi ke Pasangan: Fokuskan kembali energi dan perhatian yang awalnya diberikan kepada orang lain, kepada pasangan Anda. Temukan cara-cara baru untuk mempererat kedekatan, menciptakan kembali keintiman, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama.
6. Pikirkan Konsekuensi: Sadari dampak negatif jangka panjang jika perasaan ini dibiarkan berkembang dan mengarah pada perselingkuhan, yang dapat menyebabkan penyesalan dan trauma bagi semua pihak yang terlibat.
7. Cari Bantuan Profesional: Jika perasaan ini sulit dikelola atau menjadi indikasi masalah mendalam dalam hubungan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari konselor hubungan atau psikolog.
Mengelola ketertarikan pada orang lain saat menjalin hubungan adalah sebuah tantangan. Namun, dengan kesadaran, komunikasi terbuka, penetapan batasan yang jelas, dan fokus pada penguatan hubungan utama, perasaan ini dapat ditangani secara bijak demi menjaga kesehatan mental dan keutuhan komitmen.