:strip_icc()/kly-media-production/medias/3155031/original/012200200_1592377995-pecel-bumbu-kacang-31312i.jpg)
Minat global terhadap kuliner autentik memposisikan nasi pecel Solo sebagai ikon gastronomi yang tak lekang oleh waktu, dengan sejumlah warung legendaris di kota ini terus menarik perhatian wisatawan dan penikmat kuliner pada tahun 2026. Warisan kuliner yang sudah ada sejak abad ke-9 Masehi ini tidak hanya menjadi penanda budaya Jawa, tetapi juga pendorong ekonomi lokal yang signifikan.
Pecel, sebuah hidangan yang secara etimologis berasal dari bahasa Jawa yang berarti 'ditumbuk' atau 'dihancurkan dengan ditumbuk', merujuk pada metode persiapan sayurannya. Hidangan ini pertama kali disebutkan dalam Kakawin Ramayana pada era Kerajaan Mataram Kuno (898-930 M) dan kemudian dalam Babad Tanah Jawi, menunjukkan akarnya yang dalam dalam sejarah kuliner Jawa. Apa yang dulunya merupakan sajian istimewa bagi tamu kerajaan kini telah berevolusi menjadi santapan sehari-hari yang mudah ditemukan di pasar dan kedai makanan. Solo, khususnya, dikenal karena kemampuannya menjaga tradisi kuliner tanpa kehilangan relevansi di tengah perubahan selera modern, menjadikan pecel sebagai representasi nyata kekuatan tersebut. Bahkan, pecel telah mendapatkan pengakuan internasional, menduduki peringkat ke-3 sebagai salad terlezat di dunia per November 2025 oleh TasteAtlas.
Dalam lanskap kuliner 2026, tren "Masakan Autentik: Kebangkitan Piring Kecil" dan "Kesehatan: Makanan artisanal" semakin mengemuka, sejalan dengan karakteristik pecel yang menonjolkan bahan-bahan segar dan proses tradisional. Inspektur Michelin Guide juga melaporkan bahwa "Waktu Adalah Bahan" dan "Masakan Tradisional Menancapkan Akar Kontemporer," menandakan apresiasi yang meningkat terhadap hidangan yang kaya sejarah dan disiapkan dengan metode turun-temurun. Fenomena ini turut mendorong sektor pariwisata kuliner, yang menurut studi terbaru, dapat menghasilkan pendapatan signifikan bagi perekonomian lokal, dengan wisatawan kuliner menghabiskan 34% lebih banyak per perjalanan dibandingkan turis biasa.
Solo menjadi salah satu kota yang memimpin dalam pelestarian dan promosi kuliner pecel dengan beberapa warung yang telah berdiri puluhan tahun, bahkan melintasi generasi. Rumah Makan Pecel Bu Kis, misalnya, telah eksis sejak tahun 1950, mempertahankan cita rasa klasik dengan sayuran segar dan sambal tumpang unik berbahan dasar tempe semangit (tempe fermentasi khusus) di samping sambal kacang tradisionalnya. Terletak di Jalan Gleges, Sriwedari, warung ini menjadi langganan pejabat dan wisatawan, beroperasi setiap hari dari pukul 07:00 hingga 14:00 WIB.
Pecel Solo Resto menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan masakan Jawa tradisional dengan suasana artistik yang menyerupai museum, dihiasi dengan perabotan dan barang antik Jawa yang indah. Pecel Ndeso menjadi menu andalannya, disajikan dengan nasi merah, daun pepaya yang memberikan sentuhan pahit, bunga pisang yang gurih, serta kerupuk karak. Yang membedakan adalah penggunaan saus wijen hitam di atas saus kacang, sebuah varian khas pecel ndeso Surakarta. Lokasinya berada di Jalan Prof. DR. Supomo No. 55, Mangkubumen.
Warung Pecel Menangan juga merupakan entitas legendaris di Solo, berdiri sejak tahun 1985 dan dikenal karena menyajikan hingga 17 macam sayuran langka. Fenomenalnya, warung ini mampu menjual hingga 400 porsi dalam sehari. Pecel Menangan menawarkan pecel merah dengan nasi merah dan berbagai pilihan sambal, termasuk sambal pecel, sambal pecel pedas, dan sambal wijen. Warung utamanya terletak di Jalan Citarum No.34, Joyosuran, sementara cabangnya dapat ditemukan di Dukuh Bulak, Mojolaban, buka setiap Senin hingga Sabtu dari pukul 06:00 hingga 15:00.
Pecel Sor Asem, sebuah "permata tersembunyi" di belakang Pasar Triwindu, telah menjajakan hidangannya sejak tahun 1945. Keberadaannya yang tersembunyi tidak mengurangi popularitasnya sebagai kuliner legendaris Solo yang menawarkan harga terjangkau. Warung ini berlokasi di Jalan Seram, Keprabon, dan beroperasi dari pukul 06:30 hingga 14:30 WIB setiap hari, kecuali Senin.
Selain pecel khas Solo, kota ini juga mengakomodasi varian pecel dari daerah lain, seperti pecel Madiun. Pecel Madiun di Solo dapat ditemukan di beberapa lokasi, di antaranya di Jalan Gunung Kawi VI, Kadipiro, yang populer di kalangan mahasiswa dekat kampus Unisri, serta Pecel Madiun Mbak Sulis di Jalan Sutan Syahrir No.16, Kepatihan Wetan, yang buka mulai sore hingga malam hari, menawarkan bumbu kacang kental dan sayuran segar dengan rempeyek renyah. Adaptasi ini menunjukkan dinamika kuliner Solo yang terbuka terhadap keberagaman sekaligus menjaga kualitas rasa.
Pecel, dengan keragaman varian dan sejarah panjangnya, tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga memperkaya narasi budaya dan ekonomi Kota Solo di mata dunia. Kehadiran warung-warung pecel legendaris ini memastikan bahwa kuliner ikonik Jawa ini akan terus menjadi daya tarik utama, mendukung pelestarian warisan budaya dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi lokal pada tahun-tahun mendatang.