:strip_icc()/kly-media-production/medias/3207885/original/047376500_1597304891-bts6.jpg)
Lonjakan drastis tarif akomodasi di Busan mencuat lima bulan menjelang konser megabintang K-pop BTS. Hotel dan penginapan di kota pelabuhan Korea Selatan itu dilaporkan menaikkan harga hingga sepuluh kali lipat dari tarif normal, bahkan ada yang mencapai tiga puluh kali lipat, memicu kemarahan penggemar dan kekhawatiran terhadap citra pariwisata kota. Situasi ini terjadi menjelang konser "BTS: Yet to Come in Busan" pada 15 Oktober 2022, yang diselenggarakan untuk mendukung pencalonan Busan sebagai tuan rumah World Expo 2030.
Beberapa laporan spesifik menyoroti praktik penetapan harga yang agresif. Sebuah hotel di area Gijang, dekat lokasi konser sementara, dilaporkan menaikkan harga menginap dua malam untuk periode 14-16 Oktober menjadi 7,5 juta won (sekitar $5.560), melonjak hampir 33 kali lipat dari tarif 300.000 won untuk periode yang sama di bulan September. Hotel lain di Distrik Jung-dong, Haeundae, menetapkan harga 1 juta won untuk kamar yang biasanya 170.000 won pada akhir pekan konser. Bahkan, motel yang berjarak sekitar 30 kilometer dari lokasi konser dilaporkan mematok 500.000 won untuk satu malam. Sejumlah penggemar BTS juga mengeluhkan pembatalan reservasi yang sudah ada, dengan dugaan motif untuk menjual kembali kamar dengan harga lebih tinggi. Seorang netizen berbagi pengalamannya bahwa hotel di area Gijang membatalkan reservasi mereka dan kini mengenakan biaya lima kali lipat, dengan pertanyaan "Bagaimana mereka bisa meminta 3,5 juta won untuk satu malam?". Ada pula laporan yang menyebutkan hotel menolak reservasi dari warga Korea dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih besar dari penggemar asing berkocek tebal.
Pemerintah kota Busan segera merespons gejolak ini. Seorang pejabat kota menyatakan bahwa beberapa fasilitas penginapan membatalkan reservasi yang ada dan mendaftarkannya kembali dengan harga lebih tinggi, merusak misi konser BTS dan mencoreng citra kota. Walikota Busan, Park Heong-joon, mengakui keseriusan situasi dan mengadakan pertemuan antarlembaga pada 30 Agustus 2022 untuk menyiapkan langkah-langkah penanggulangan. Tim inspeksi lapangan telah dibentuk untuk memantau langsung dan memberikan panduan kepada operator hotel, sekaligus menjajaki kerja sama dengan Ulsan untuk memperluas pilihan akomodasi. Meskipun demikian, otoritas kota menghadapi tantangan dalam mengatur harga secara langsung karena undang-undang Korea Selatan memungkinkan hotel dan wisma menetapkan tarif secara bebas, sehingga sulit untuk memberikan sanksi hanya karena menaikkan harga selama permintaan puncak. Intervensi hanya dapat dilakukan jika operator membatalkan reservasi yang sudah dikonfirmasi secara sepihak atau memaksa tamu membayar biaya tambahan, yang dapat berujung pada sanksi administratif.
Fenomena lonjakan harga akomodasi selama acara besar bukan kali pertama terjadi di Busan. Setiap tahun, sulit menemukan kamar terjangkau selama Festival Film Internasional Busan (BIFF). Pada November tahun sebelumnya, selama Festival Kembang Api Busan, kamar-kamar dengan harga di atas 1 juta won per malam bermunculan, bahkan ada kasus di mana harga kamar melonjak dari 650.000 won menjadi 2 juta won. Presiden Lee Jae-myung sendiri pada tahun sebelumnya telah memerintahkan pejabat untuk mengatasi praktik "price gouging" dalam pariwisata regional, memperingatkan bahwa praktik semacam itu merusak citra pariwisata dan negara.
Konser "BTS: Yet to Come in Busan" yang menarik 100.000 penggemar, baik domestik maupun internasional, memiliki dampak ekonomi yang signifikan, diperkirakan mencapai $524 juta. Seluruh kota Busan menyambut acara tersebut dengan landmark dan lokasi wisata diterangi cahaya ungu, warna khas penggemar BTS. Hybe, agensi di balik BTS, bahkan mengubah Busan menjadi semacam "taman hiburan" bagi para penggemar dengan berbagai pengalaman bertema BTS, zona foto, suvenir, dan menu khusus di beberapa hotel mitra. Namun, praktik kenaikan harga yang tidak terkendali berpotensi mengikis keuntungan ekonomi ini dan merusak reputasi Busan sebagai tujuan wisata. Reaksi penggemar di forum daring mencerminkan kekecewaan mendalam, dengan beberapa menyatakan, "Saya harap Busan tidak terpilih sebagai kota tuan rumah," dan "Busan merusak reputasinya sendiri."
Di tengah kritik ini, HYBE, melalui pernyataan resminya pada September 2022, menekankan komitmen mereka terhadap kualitas panggung BTS dan menegaskan bahwa sebagian besar biaya konser akan ditanggung oleh sponsor korporat, iklan streaming online, dan inisiatif "THE CITY" yang menyertainya. Mereka juga menyatakan bahwa HYBE dan BTS bangga berkontribusi untuk negara dan melihat acara ini sebagai peluang penting untuk menyoroti Busan ke mata dunia. Meskipun konser BTS berhasil mendatangkan dampak ekonomi positif dan revitalisasi kota, seperti yang diungkapkan oleh para pengemudi taksi dan penduduk setempat yang merasakan lonjakan penumpang dan pengunjung, insiden kenaikan harga hotel yang tidak etis ini tetap menjadi catatan penting. Perdebatan antara penawaran dan permintaan pasar bebas versus praktik "price gouging" yang merugikan konsumen dan citra pariwisata akan terus relevan seiring dengan meningkatnya popularitas acara berskala global. Busan harus menyeimbangkan ambisi ekonominya dengan menjaga pengalaman yang adil bagi semua pengunjung.