:strip_icc()/kly-media-production/medias/5190125/original/010926500_1744854092-WhatsApp_Image_2025-04-17_at_08.40.38.jpeg)
Elon Musk menyatakan niatnya untuk mengajukan hak asuh penuh atas putranya dengan Ashley St. Clair pada 12 Januari 2026, menyusul pernyataan St. Clair yang menunjukkan dukungannya terhadap komunitas transgender. Musk, melalui unggahan di platform X, mengklaim bahwa pernyataan St. Clair menyiratkan kemungkinan dia akan mengubah gender anak laki-laki berusia satu tahun mereka, meskipun St. Clair tidak pernah secara eksplisit menyatakan niat tersebut. Langkah Musk ini muncul di tengah perseteruan publik yang telah berlangsung antara keduanya mengenai pengasuhan anak mereka, Romulus.
Latar Belakang dan Kontroversi Paternitas
Hubungan antara Elon Musk dan Ashley St. Clair, seorang penulis dan komentator konservatif, menjadi sorotan publik pada Februari 2025 ketika St. Clair mengumumkan bahwa ia telah melahirkan seorang putra pada September 2024 dan Musk adalah ayahnya. St. Clair menyatakan bahwa ia awalnya merahasiakan kelahiran tersebut untuk melindungi privasi dan keamanan anak mereka, yang disebut dengan inisial R.S.C., namun memutuskan untuk mengumumkannya karena media gosip berencana untuk melaporkannya.
Pada awalnya, Musk merespons klaim paternitas tersebut dengan skeptis. Pada Maret 2025, ia menyatakan di X bahwa ia "tidak yakin apakah anak itu miliknya atau tidak, tetapi tidak menentang untuk mencari tahu". Ia juga mengklaim telah memberikan $2,5 juta kepada St. Clair dan mengirimkan $500.000 per tahun untuk dukungan anak, meskipun ia tidak yakin akan paternitasnya. Namun, St. Clair membantah klaim Musk, menyatakan bahwa ia sebelumnya menolak tes paternitas sebelum anak itu lahir dan menarik sebagian besar dukungan finansial untuk "mempertahankan kendali dan menghukumnya karena 'ketidaktaatan'".
Situasi berubah pada April 2025 ketika laporan Wall Street Journal mengungkapkan hasil tes paternitas yang menunjukkan probabilitas 99,9999% bahwa Elon Musk adalah ayah dari anak tersebut, yang kemudian diketahui bernama Romulus. Konfirmasi ini menjadikan Romulus anak ke-13 Musk.
Gugatan Hak Asuh Awal
Sebelum pengumuman Musk tentang niatnya untuk mencari hak asuh penuh, Ashley St. Clair telah mengajukan gugatan terhadapnya pada Februari 2025 di Mahkamah Agung New York untuk hak asuh tunggal atas putra mereka. Dalam petisi tersebut, St. Clair menyatakan bahwa Musk tidak hadir saat kelahiran Romulus dan "hanya bertemu dengannya tiga (3) kali dan tidak terlibat dalam perawatan serta pengasuhannya". Ia juga mengklaim bahwa Musk "mengakui paternitas anak tersebut dalam berbagai korespondensi tertulis," termasuk pertukaran pesan teks setelah kelahiran Romulus. Dalam gugatan tersebut, St. Clair tidak mencari tunjangan anak pada awalnya, hanya pengakuan hukum bahwa Musk adalah ayah biologis.
Implikasi Konflik Terkini
Keputusan Musk untuk mencari hak asuh penuh, yang diumumkan pada 12 Januari 2026, dipicu oleh permintaan maaf publik St. Clair atas komentar transfobia di masa lalu dan dukungannya terhadap komunitas transgender. Musk menanggapi komentar St. Clair di X, menuduhnya "menyiratkan bahwa dia mungkin akan mengubah gender anak laki-laki berusia satu tahun". St. Clair telah menjelaskan bahwa ia tidak pernah menyatakan niat untuk mengubah gender putra mereka, melainkan mengungkapkan penyesalan atas pernyataan masa lalu yang mungkin "menyebabkan lebih banyak rasa sakit pada saudari putranya," merujuk pada putri transgender Musk, Vivian Wilson.
Konflik hak asuh ini menyoroti kompleksitas kehidupan pribadi para tokoh publik dan dampak pernyataan media sosial pada masalah keluarga yang sensitif. Ini juga membawa dinamika seputar pandangan Musk yang vokal mengenai identitas gender dan hubungannya yang tegang dengan Vivian Wilson ke dalam sorotan publik. Kasus ini diperkirakan akan menjadi pertarungan hukum profil tinggi yang dapat membentuk preseden bagi figur publik lainnya dalam menghadapi tantangan paternitas dan hak asuh di era digital.