Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

PERSAGI Ungkap Ancaman Kesehatan Konsumsi Makanan Ultra-Proses di Hari Gizi Nasional

2026-01-21 | 23:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T16:10:59Z
Ruang Iklan

PERSAGI Ungkap Ancaman Kesehatan Konsumsi Makanan Ultra-Proses di Hari Gizi Nasional

Perhimpunan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) secara tegas menyoroti bahaya serius di balik tingginya konsumsi makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food/UPF) di kalangan masyarakat Indonesia menjelang peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari, memperingatkan potensi krisis kesehatan publik jangka panjang yang mengancam produktivitas dan kualitas hidup. Peringatan ini muncul di tengah tren peningkatan konsumsi UPF yang signifikan, didorong oleh urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan kemudahan akses, yang berimplikasi pada peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Data dari berbagai riset menunjukkan bahwa konsumsi UPF di Indonesia terus meningkat secara substansial dalam dekade terakhir. Sebuah studi pada tahun 2021 menemukan bahwa makanan dan minuman ultra-proses menyumbang proporsi yang signifikan dari asupan energi harian penduduk, terutama di perkotaan dan kelompok usia muda. Tren ini diperparah oleh strategi pemasaran agresif dari industri makanan yang menargetkan konsumen dengan produk-produk berkalori tinggi, gula, garam, dan lemak jenuh tinggi, namun rendah serat dan mikronutrien penting.

Ketua Umum PERSAGI, Rudatin, telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai dampak UPF terhadap status gizi masyarakat. Ia menegaskan bahwa produk-produk ini, yang dirancang untuk menarik indra perasa dan memiliki umur simpan panjang, seringkali menggantikan asupan pangan segar dan bergizi, memperburuk masalah gizi ganda yang dihadapi Indonesia – yaitu kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 menjadi momentum krusial bagi PERSAGI untuk mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya agar mengambil langkah-langkah konkret dalam mengendalikan konsumsi UPF.

Latar belakang masalah ini tidak lepas dari transformasi ekonomi dan sosial di Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat meningkat, dan akses terhadap berbagai jenis makanan, termasuk UPF, menjadi lebih mudah. Perubahan pola makan dari diet tradisional yang kaya akan bahan pangan lokal segar menjadi diet modern yang didominasi oleh produk olahan turut berkontribusi pada permasalahan ini. Globalisasi pangan juga memperkenalkan berbagai merek dan produk UPF dari luar negeri, yang seringkali dianggap sebagai simbol kemodernan atau status sosial, khususnya di kalangan generasi muda.

Implikasi jangka panjang dari tingginya konsumsi UPF terhadap kesehatan masyarakat sangat serius. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai penelitian independen secara konsisten mengaitkan konsumsi UPF dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, dan beberapa jenis kanker. Beban penyakit ini tidak hanya menimbulkan penderitaan individu, tetapi juga membebani sistem kesehatan nasional melalui peningkatan biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas ekonomi. Kementerian Kesehatan Indonesia sendiri mengakui bahwa PTM menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara ini, dan pola makan yang tidak sehat adalah salah satu faktor risiko utamanya.

Untuk mengatasi tantangan ini, PERSAGI mendesak pemerintah untuk memperkuat regulasi terkait produksi, pemasaran, dan labelisasi UPF. Salah satu rekomendasi adalah implementasi label gizi yang mudah dipahami di bagian depan kemasan (front-of-package labelling), seperti sistem "Nutri-Score" atau "Health Star Rating", yang dapat membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat. Selain itu, diperlukan kampanye edukasi gizi yang masif dan berkelanjutan untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang bahaya UPF dan pentingnya konsumsi pangan segar dan alami. Kebijakan fiskal, seperti pajak atas produk tinggi gula, garam, dan lemak jenuh, juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi daya tarik dan konsumsi UPF, sebagaimana telah diterapkan di beberapa negara. Tanpa intervensi yang komprehensif, ancaman kesehatan dari UPF akan terus membayangi masa depan gizi dan kesehatan publik di Indonesia.